Selasa, 21 Juni 2016

PANJANG NYA ANGAN MANUSIA 

ketika kita mengamati realita yang ada,,kita akan mendapati bahwa manusia adalah makhluk yang sangat penuh dengan angan angan,,baik dari yang  mampu dia raih hingga sampai yang mustahil sekalipun,,bahkan Allah telah menjelaskan,,setelah mati pun manusia masih tetap berangan angan,,di dalam Alquran (Q.s al-mukminun 99 - 100) Allah berfirman :
حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُون
لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحاً فِيمَا تَرَكت
KAUM MUSLIM ROHIMAKUMULLOH ,,ketika kebanyakan manusia memiliki panjang angan angan,,maka kita tidaklah sulit untuk meng-ilustrasikan bagaimana gambaran manusia dengan sekelumit panjang nya angan angan,,yang tanpa sadar,,ternyata telah banyak membawa seseorang hingga sampai usia senja nya……. ketika seseorang di jenjang pendidikan dasar dia akan berangan angan untuk dapat menimba ilmu di perguruan tinggi ternama serta lulus dengan hasil yang memuaskan,,maka Allah sampaikan hingga lulus dengan hasil yang di inginkan,,dan ketika lulus kuliah,,dia pun berangan angan untuk segera bekerja dengan gaji yang layak agar hidup nya menjadi mapan,,maka Allah sampaikan dia menjadi orang yang mapan,,dan ketika telah hidup mapan,,dia pun kembali berangan angan untuk segera menikah,,agar hidup nya tentram karena akan memiliki pendamping hidup,,maka Allah sampaikan apa yang menjadi keinginan nya tsb,,,dan setelah menikah,,dia kembali berangan angan agar cepat di berikan anak sebagai pelipur hati,,maka Allah berikan pada nya anak anak yang menyejukkan pandangan yang semakin hari semakin tumbuh dewasa,,dan setelah anak nya dewasa,,maka dia pun berangan angan agar dapat menikahkan anak anak nya agar bisa menimang cucu dari nya,,dan di saat inilah dia mulai sadar dan telah merasakan,,bagaimana usia senja mulai menghampiri,,maka dia pun kembali berangan angan agar semua rutinitas yang telah membebani dan membuat penat tubuh nya agar segera terlepas dari diri nya dengan pensiun,,namun kondisi telah jauh berbeda,,ketika dulu dia memulai karir nya maka dia dalam kondisi tegap menyongsong kehidupan nya,,namun sekarang,,dia justru pada posisi menyongsong babak akhir dari kehidupan nya,,maka menyadari hal itu dia pun kembali berangan angan agar lebih dekat dengan pencipta nya,,maka ketika itu dia sangat ingin membaca kalam tuhan nya,,namun mata nya sudah mulai menghianati nya dengan keluhan rabun,,ketika dia ingin menghafal Alquran walaupun sedikit ,,namun,,di saat itu ingatan nya pun telah ikut pula menghianati nya dengan kepikunan,,ketika dia berangan angan agar lebih dekat dengan tuhan nya dengan berpuasa,,namun sayang di saat itu lambungnya sudah tak lagi bersahabat,,bahkan kesehatan tidak lagi berpihak kepada nya dengan sering nya di hampiri berbagai penyakit kambuhan,,kaki dan punggung yang tak lagi kuat untuk menopang tubuhnya ketika sholat,,maka di saat seperti itu mulai-lah mata berkaca kaca,,menangisi nasib sendiri seolah tiada tersisa lagi nikmat hidup bagi diri nya,,dan sadar lah ia bahwa dia bukanlah penghuni tetap di dunia ini
maka benarlah apa yang telah Allah firman kan : أَلْهَاكُم
ُ التَّكَاثُرُ* حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ* كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ* ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ
dan benarlah apa yang Nabi salallohualaihi wasallam sabdakan tentang panjang nya angan angan (H.R Bukhori dari Ibnu Abbas) :
لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِياً مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ
maka Islam bukan lah agama yang melarang kepada ummat nya untuk berangan angan selama dalam lingkup kebaikan,,dan tidaklah Islam melarang TUULUL’AMAL atau panjang angan angan dalam perkara duniawi melainkan karena dia merupakan penyakit akut yang sulit di obati dan sulit di nasehati melainkan dengan nasehat yang terakhir yaitu kematian ,,,maka marilah kita mengoreksi diri,,dalam hal apakah selama ini kita selalu ber-panjang angan angan ??,, َ
                                                                            

Kamis, 03 Oktober 2013

SUASANA HAJI TEMPO DULU

PELABUHAN JIDDAH TAHUN 1320 H / 1899 M

AIRPORT JIDDAH TAHUN 1381 H /1960 M

MAKKAH TAHUN 1297 H / 1880 M

MAKKAH TAHUN 1331 H /1910 M

PINTU KE BUKIT SHOFA

AROFAH TAHUN 1320 H / 1899 M


AROFAH TAHUN 1381 H / 1960 M

JUMRATUL AQOBAH TAHUN 1381 H / 1960 M

SUASANA HAJI TAHUN 1374 H / 1953 M







Selasa, 27 Agustus 2013

RENUNGAN DI BULAN ROMADHON

saudara ku seiman,,,,,kita telah banyak mendengar dari para khotib,da'i-da'i yg berceramah yg menjelaskan ttg keutamaan yg di miliki oleh bulan Romadhon serta orang orang yg berpuasa di dalam nya dalam rangka memberikan semangat dan motifasi kepada kaum muslimin untuk berlomba lomba meraup kebaikan di dalam bulan yg penuh dgn berkah ini,sekalipun sangat di sayangkan karena saking semangat nya,tidak cukup dengan hadist yg shohih sampai sampai hadist yg do'if,maudu',bahkan yg mungkar dengan kesepakatan para ulamak hadist pun di sampaikan kepada ummat,yg terkadang membuat ummat banyak terkecoh dan salah menyikapi dan mengaplikasikan tentang keutamaan romadhon dan melupakan rambu rambu dan peringatan dari Nabi Salallohu'alaihi wasallam yg berkaitan dengan Romadhon kepada kaum mukminin agar mewaspadai nya dan tidak terjatuh kedalam nya....
Saudara ku seiman,,,,,di samping keutamaan yg sangat melimpah di bulan Romadhon,ada tanbih atau peringatan dari Nabi Salallohu'alaihi wasallam sebagai bentuk kasih sayang Beliau terhadap ummat nya agar mereka tidak terjatuh ke dalam kesia-siaan,hal ini sejalan dengan apa yg pernah di katakan oleh para penya'ir :  عرفت الشر لا للشر لكن لتوقيه,,,,, و من لا يعرف الشر من الناس يقع فيه atrinya : "aku mengenal kejelekan bukan berarti ingin melakukan nya,,akan tetapi untuk menjauhi nya,,dan barang siapa yg tidak mengenal kejelekan,maka boleh jadi dia akan terjatuh kedalam nya" ,,
Adapun peringatan2 Nabi tersebut antara lain :
1. Nabi  Salallohu’alaihi wasallam  bersabda (ibnu majah,,Nasa’i --> Abu hurairah) :
رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع ، ورب قائم ليس له من قيامه إلا السهر    ,,,,maka lafadz yg pertama yaitu :
رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع    adalah semata mata di tujukan terhadap orang yg berpuasa agar waspada,,seruan berlomba lomba dalam kebaikan di bulan Romadhon adalah seruan Allah dan Rosul Nya terhadap kaum mukminin,namun perlombaan yg nampak dari kaum mukminin adalah : Romadhon di jadikan momen yg tepat oleh sebagian orang sebagai ajang promosi partai politik,jabatan,wakil rakyat yg ingin meraih simpati dengan sejuta slogan peduli rakyat yg terkadang nama mereka sangat akrab bagi kita di bulan ini,namun di bulan yg lain ketika di butuhkan,nama itu hilang entah ke mana, kemudian berlomba nya kaum mukminin dalam masalah hidangan berbuka yg terkadang menu2 nya di rancang dari sebelum tengah hari,hingga tiba waktu berbuka semua jenis hidangan dan minuman pun di gelar,semua berusaha di coba sampai tetes penghabisan seperti bentuk balas dendam, ketika perut terisi seperti ini maka,mata mulai redup yg mengakibatkan banyak kebaikan akan terlewatkan,,,setelah terjadi hal hal di atas, maka,sangat di khawatirkan kita akan mejadi sasaran dari lafadz hadist yg selanjutnya yaitu :
ورب قائم ليس له من قيامه إلا السهر  ,, jika rasa kantuk dan kenyang yg menyertai ibadah, maka sangat sulit bagi seseorang untuk khusyuk dan tumakninah dalam beribadah yg merupakan ruh dari sholat yg Nabi katakan dalam hadist Beliau (ath-Thabrani -->Abdullah ibnu mugoffal ) : ,, أَسْوَأُ النَّاسِ( سرقة ) الَّذِي يَسْرِقُ صَلَاتَهُ ,, ”sejelek2 pencuri adalah orang yg mencuri sholatnya sendiri,,  Rasulullah ditanya,Ya Rasulullah, bagaimana seseorang mencuri shalatnya?” Beliau menjawab, لا يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَ سُجُودَهَا,,maka jika demikian keadaan nya,,di khawatirkan seseorang akan pulang dengan hanya membawa kelelahan,,kemudian perlombaan berlanjut hingga di ujung Romadhon dengan aneka busana dan perhiasan untuk bermegah di hari lebaran,,,hal hal yg kami sebutkan di atas seperti makanan,pakaian dan perhiasan bukan lah hal yg tercela,akan tetapi bila hal tersebut di jadikan rutinitas wajib dan sebagai tujuan di bulan yg mulia ini,maka sangat di khawatirkan ibadah yg kita lakukan hanya sebatas menggugurkan kewajiban tanpa nilai lebih di sisi Allah Subahanahu wata’alaa
2. ( ibnu khuzaimah,ahmad,baihaqi )Abu hurairah rodiyallohu’anhu pernah mendengar nabi mengucapkan AMIN 3 kali yg meng-amin kan do’a nya Malaikat Jibril Alaihissalaam ,yg salah satu do’a tersebut adalah seperti yg beliau sabdakan :
إن جبريل عليه السلام أتاني فقال : من أدرك شهر رمضان فلم يغفرله فدخل النارفأبعده الله..قل أمين فقلت أمين    : “ sesungguhnya malaikat Jibril Alaihissalaam  datang kepadaku kemudian berkata : barang siapa menjumpai bulan Romadhon kemudian kebaikan2 yg melimpah di bulan itu belum bisa menyebabkan dosanya terhapus maka,Allah mengancam akan memasukkan nya kedalam neraka dan Allah jauhkan dia,katakan AMIN wahai Muhammad,maka aku meng-aminkan nya”  ,,,bulan Romadhon adalah bulan panen pahala, keberkahan dan ampunan bagi kaum mukminin,karena Allah bukakan pintu2 keberkahan,setiap dosa Allah siapkan ampunan yg luas,dan setiap kebaikan di lipat gandakan balasan nya,apalagi di dalamnya Allah telah anugrahkan LAILATUL QODAR suatu malam yg nilainya melebihi 1.000 bulan atau ± 83 thn 4 bulan yg bisa menyamai bahkan mengungguli kebaikan umat –umat terdahulu yg di beri umur panjang hingga ribuan tahun,maka hendaklah kita menjadi orang yg ikut panen di bulan ini dengan lahan yg luas,bukan termasuk dari golongan orang-orang yg gagal panen,apalagi menjadi orang yg hanya mendegar kabar ttg orang-orang yg sedang panen,mudah-mudahan Allah jauhkan kita dari hal2 yg menyebabkan sia- sia puasa dan sholat malam kita,dan mudah-mudahan Allah panjangkan umur kita hingga Romadhon yg akan datang  serta Allah mudahkan bagi kita semua untuk bisa meraih segala kebaikan yg Allah siapkan di dalam nya,amiin ya rabbal ‘alamiin



Kamis, 18 April 2013

MENJAGA HUBUNGAN BAIK DENGAN ALLAH DAN MANUSIA



sebagai manusia,kita memiliki dua hubungan utama yang harus tetap terjaga dengan baik,hubungan yg mau tidak mau,atau suka tidak suka pasti akan kita butuhkan dan kita jalani yaitu :             1.  Hablum minalloh         2. Hablum minan naas......yang pertama adalah hablum minallah , hubungan ini akan berjalan baik ketika seseorang menegakkan hak dan kewajiban nya terhadap Allah dengan sebaik- baiknya,dan di antara hak Allah yg terbesar yg wajib kita tunaikan adalah  أن لا تعبدوا إلا إياه ولاتشركوا به شيئا  ,yaitu janganlah kita beribadah kecuali hanya kepada Allah semata tanpa menyekutukan Nya dengan apapun,karena tidak ada yang setara dan sebanding dengan Allah dalam segala hal,oleh karena itu,setiap hal yang menjadi kekhususan bagi Allah,tidak boleh kita palingkan kepada selain nya,seperti perkara perkara ibadah,atau pengetahuan ttg perkara-perkara yang gaib,atau kemampuan mendatangkan manfaat serta menolak mudarat,,jika kita meyakini Allah yang kita sembah Maha kuasa dalam segala hal,maka kita harus yakin masalah rizki yg kita peroleh bukan semata mata faktor kemapanan/keahlian kita  ,kesuksesan yang kita raih bukan semata mata faktor kerja keras kita,atau pengaruh benda2,hari2/tanggal2 tertentu yg di kaitkan dengan hal2 mistis yg di yakini oleh sebagian orang2 yg jahil dapat mendatangkan maslahat atau bisa menolak mudarat, yg hal tsb merupakan salah satu bentuk kesyirikan yg menodai hablum minalloh ,,Abdullah bin mas’ud Rodiyallohu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi Salallohu’alaihi Wasallam ttg dosa apa yang paling besar,maka Nabi menjawab:  أن تجعل لله ندا وهو خلقك,''engkau menjadikan bagi Allah sekutu/tandingan,padahal Allah yg telah menciptakan mu",,,,  kemudian kita berusaha jalankan ajaran agama yg hak ini sesuai dengan tuntunan Allah di dalam Al qur’an,dan sesuai dengan apa yang Nabi Salallohu’alaihi wasallam contohkan dalam Sunnah nya, serta sesuai dengan apa yang pernah dipraktek kan oleh para salafussholeh Rodiyallohu ’anhum ’ajmai’nn.. Al imam asyafi’i  Rohimahulloh pernah berkata yang perkataan ini patut kita jadikan pegangan dalam beragama,yaitu:
أمنت بالله, وبماجاءعن الله, على مرادالله,,وأمنت برسول الله,وبماجاءعن رسول الله ,على مراد رسول الله
"aku beriman kepada Allah,dan apapun yg datang dari Allah dengan cara yg di ingin kan/di syariatkan oleh Allah,dan akupun beriman kepada Rasululloh dan apapun yg Beliau bawa dan dengan cara yg di inginkan/di syariatkan oleh Beliau"

kemudian yang kedua adalah hablum minan naas,sebagai mahluk sosial manusia akan hidup berdampingan satu sama lain nya ,seorang muslim yg baik di tuntut untuk bisa bergaul dengan apik di tengah tengah masyarakat,dan modal utama di dalam pergaulan adalah akhlaq yg mulia karena sesungguhnya akhlak yang mulia itu sendiri adalah cerminan kesempurnaan iman seorang muslim..di dalam hadist yg diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi (no.1162) Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:  أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا  “Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaq-nya”, Sehingga semakin tinggi iman seseorang,akan  semakin baik pula akhlaknya. hal hal yg kadang kita anggap sepele terkadang bisa mendatangkan kebaikan dan keharmonisan dalam bergaul ,,senyum dan mengucap salam ketika bertemu adalah contoh kecil dan sederhana dari akhlak mulia yang diajarkan oleh islam yang bisa kita dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari dalam bergaul di tengah masyarakat.. di dalam hadist yg diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi (no.1956,)  Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:   تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَة “Senyummu terhadap wajah saudaramu adalah sedekah, Hadist di atas sekaligus menjadi bukti betapa Allah itu Sangat pemurah, sangat penyayang kepada hamba-Nya. Karena ternyata sedekah itu tidak harus dengan uang atau hartabenda, Cukup menggerakkan otot wajah dan bibir, membentuk sebuah senyuman, seseorang sudah bisa bersedekah, ”. Senyum dan salam kepada lawan bicara, atau orang yang ditemui, akan bisa mencairkan hati dan suasana. Tidak ada hati yang fitrah dan bersih kecuali pasti akan memberikan respon positif terhadap senyuman,,Andai anda berat untuk tersenyum, setidaknya janganlah bermuka masam, kecut, sinis,dingin kepada orang lain.. Sekedar memasang muka yang cerah saja, itu sudah dihitung kebaikan dalam Islam.. di dalam hadist yg diriwayatkan oleh Imam Muslim( no. 2626)  Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda  :   لاَ تَحْقِرَنَّ مِنْ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ“Janganlah sekali kali engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun, walaupun itu berupa cerahnya wajahmu terhadap saudaramu” ,,maka hendak nya kita selalu berkaca pada diri kita sendiri,jika kita selalu berharap sikap baik dari orang lain maka orang lain pun berharap hal yg sama dari kita, هل جزء الإحسان إلا الإحسان apakan balasan yg layak untuk kebaikan kalau bukan kebaikan? Artinya buah dari suatu kebaikan adalah kebaikan juga,mudah2an tulisan yg singkat ini bermanfaat bagi kami pribadi dan kita semua untuk menjadi bekal  memperbaiki kwalitas hubungan kita dengan Allah dan hubungan kita dengan sesama manusia

Rabu, 30 Januari 2013

FITNAH KLASIK TERHADAP SALAFY

Pernah lihat foto ini?
Foto yang sering ditampilkan dalam topik kerjasama wahhabi-inggris dalam melawan kekhalifahan islam. Sebagaimana terlihat pada caption, orang paling kanan tertulis sebagai Major-General Sir Percy Zachariah Cox. Sementara seorang lainnya diklaim sebagai Muhammad bin Abdul Wahhab ‘sang pendiri aliran setan’ oleh berbagai pembenci Salafi-Wahhabi. Pada caption foto ini, Muhammad bin Abdul Wahhab disebut sebagai orang yang berdiri di samping Sir Percy Cox. Sedang pada tautan ini [http://asianedition.blogspot.com/2011/07/muhammad-ibn-abd-al-wahhab.html] ‘pendiri Wahhabi’ ini adalah orang kedua dari kiri. Namun umumnya pembenci Salafi-Wahhabi lebih memilih pendapat yang pertama karena tampangnya lebih garang, cocok dengan ‘aliran tanduk setan’ yang dia bawa. tapi mana yang benar? yang berdiri di samping Sir Percy Cox? atau yang jauh darinya? Manapun yang anda pilih, jawaban anda SALAH. Mengapa? http://en.wikipedia.org/wiki/Percy_Cox http://en.wikipedia.org/wiki/Muhammad_ibn_Abd_al-Wahhab atau silahkan cek dari berbagai narasumber. Major-General Sir Percy Zachariah Cox, GCMG, GCIE, KCSI (20 November 1864 – 20 February 1937). Muhammad ibn ʿAbd al-Wahhab (1703 – 22 June 1792) bagaimana bisa orang yang wafat pada tahun 1792 M berfoto dengan orang yang baru lahir tahun 1864 M ????? selisih 72 tahun antara keduanya. Sungguh Ajaib. lalu apakah fitnah tentang foto Muhammad bin Abdul Wahhab berhenti sampai disini? Belum. Coba cari di google image dengan keyword Muhammad bin Abdul Wahhab. Tokoh “pendiri Wahhabi” ini bahkan memiliki wajah yang garang di masa muda! Kegarangan yang cocok dengan pemahaman keras dan kasar yang dituduhkan padanya. Coba cek di situs pembenci salafi-wahabi [http://qitori.wordpress.com/2008/06/20/siapa-sebenarnya-muhammad-ibn-abdul-wahhab/] lucunya, sejauh yang bisa ditelusuri, foto pertama yang mengabadikan sosok manusia dengan jelas baru tercipta pada tahun 1839 M. Sekitar 47 tahun setelah wafatnya Muhammad bin Abdul Wahhab. [http://www.memobee.com/index.php?do=c.every_body_is_journalist&idej=2490] Maka nampak sudah, betapa fitnah licik telah dilancarkan untuk menjatuhkan sosok Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwah yang beliau bawa. Tidak hanya secara visual untuk mengesankan bahwa beliau seorang yang bertampang keras dan kasar. Bahkan juga menuduhnya sebagai orang yang gemar mengKAFIRkan sesama muslim hanya karena tidak mau menjadi pengikutnya! sebagaimana disebut di [http://qitori.wordpress.com/2008/06/20/siapa-sebenarnya-muhammad-ibn-abdul-wahhab/] dengan tulisan yang bercetak tebal. “…dia menganggap kafir kepada siapa pun termasuk kaum Muslim lainnya yang tidak mengikuti keyakinannya dan menghalalkan darah mereka, sehingga kaum Muslim yang tidak sepaham dengannya harus diperangi!” sebenarnya siapa Muhammad bin Abdul Wahhab? Apa yang sudah dilakukannya hingga banyak orang ingin memfitnahnya? http://yufid.com/result/?cref=http%3A%2F%2Fyufid.com%2Fxml%2Fcse_context_yufid.xml&cof=FORID%3A10&ie=UTF-8&q=muhammad+bin+abdul+wahhab&siteurl=yufid.com%2F&ref&ss=3470j677370j25 terinspirasi dari [http://tegoeh.multiply.com/notes/item/654] Sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=4228835353583&set=a.1535867711075

Selasa, 01 Januari 2013

KISAH GEORGE DAN IDUL ADHA

...........((((Mohon dibaca dan direnungi berdasarkan realita yang ada dengan seksama,Kisah ini ditulis oleh Syaikh Abdul Malik Al Qasim dengan judul (جورج والعيد) )))............George (50 th) tinggal bersama istri, dan dua orang anaknya (Tony & Julia) di Washington. Menjelang datangnya bulan Dzul Hijjah, George dan istri serta anak-anaknya mengikuti berita-berita seputar penentuan tanggal 1 Dzul Hijjah. George aktif menyimak berita di radio. Istrinya menyimak lewat televisi. Sedangkan Tony dan julia anak nya rajin searching di internet. Ketika pengumuman tanggal 1 Dzul Hijjah diumumkan, George sekeluarga bersiap-siap untuk menyambut Iedul Adha yang bertepatan dengan tanggal 10 Dzul Hijjah, setelah acara wukuf di Arafah tanggal 9-nya. Keesokannya, mereka sekeluarga pergi ke desa untuk membeli domba sesuai kriteria syari untuk dijadikan hewan kurban (udhiyyah), yaitu: tidak boleh buta sebelah, pincang, atau terlalu kurus. Mereka berniat menyembelihnya begitu hari raya tiba. Domba pun mereka bawa dengan pick-up sambil terus mengembik di perjalanan… Adapun Julia yang baru berusia 5 tahun, asyik berceloteh dan mengatakan, “Ayah… alangkah indahnya hari raya Iedul Adha! Aku akan pakai gaun baru, dapat THR, dan bisa membeli boneka baru… aku akan pergi bersama teman-temanku ke TOY CITY untuk bermain sepuasnya di sana… Duh, alangkah indahnya saat-saat hari raya”, katanya. “Andai aja semua hari adalah hari raya” lanjutnya. Begitu mobil tiba di rumah, istri George berbisik, “Wahai suamiku tercinta… Kamu tahu khan, bahwa dianjurkan membagi daging korban menjadi tiga: sepertiga kita makan sendiri untuk beberapa hari ke depan, sepertiga kita sedekahkan ke fakir miskin, dan sepertiga lagi kita hadiahkan ke tetangga kita David, Elizabeth, dan Monica”. Begitu Iedul Adha tiba, George dan istrinya bingung di manakah arah kiblat, karena mereka hendak menghadapkan domba kurban ke kiblat. Setelah menebak-nebak, mereka memutuskan menghadapkan kurban ke arah Saudi Arabia, dan ini sudah cukup. Setelah mengasah pisau, George menghadapkan dombanya ke kiblat lalu menyembelihnya. Ia kemudian menguliti dan memotong-motong dagingnya. Adapun istrinya membaginya menjadi tiga bagian sesuai sunnah. Namun tiba-tiba George berteriak mengatakan, “Waduh, kita terlambat ke gereja… sebab ini hari Minggu dan kita akan terlambat menghadiri misa!”. George konon tidak pernah ketinggalan misa di Gereja setiap hari Minggu. Ia bahkan rajin membawa istri dan anak-anaknya ke gereja........ (((Sampai di sini, pengisah/penulis mengakhiri kisahnya tentang George.)))...... Kemudia tiba tiba Salah satu yg hadir bertanya: “Waduh, kamu membingungkan kami dengan kisah ini !!! George ini seorang muslim ataukah Kristen??”. Pengisah menjawab: “George dan keluarganya adalah penganut Kristen. Mereka tidak meyakini kemahaesaan Allah, namun menganggapnya salah satu dari Tuhan yang tiga (trinitas). Mereka juga tidak percaya bahwa Muhammad adalah penutup para nabi dan rasul” jelasnya. Majelis pun geger mendengar penjelasan tersebut. lalu salah satu yang di majelis berseru, “Hai Ahmad, kamu jangan membohongi kami. Siapa yang percaya kalau George dan keluarganya melakukan itu semua? Mana mungkin seorang Nasrani menerapkan syiar-syiar Islam… mana mungkin mereka membuang-buang waktu untuk menyimak radio, televisi, dan internet sekedar untuk mengetahui kapan hari raya Iedul Adha tiba?? Mana mungkin mereka rela merogoh koceknya untuk membeli hewan kurban, lalu menyembelih dan membagi-baginya… dst!!!” kata si penanya. Ahmad pun menjawab dengan senyum dan sedikit heran, “Wahai saudara-saudaraku tercinta, tentu kalian tidak mempercayai ceritaku. Kalian tidak akan membenarkan jika ada sebuah keluarga Kristen yang melakukan hal tersebut. Akan tetapi,suatu hal yang sangat di sayangkan,kita yang berada di negeri-negeri muslim dan banyak menyaksikan: orang orang yang namanya Abdullah, Muhammad, Khalid, Khadijah, Fatimah, dan nama-nama muslim lainnya dengan santai dan riang gembira turut merayakan hari raya kaum Nasrani dan Yahudi. Kita turut merayakan tahun baru Masehi (Masehi nisbat kepada Isa Al Masih/Yesus),dan dengan suka rela menjadi budak peniup terompet2 mereka,berbondong2 mengucapkan selamat Natal, merayakan Valentine’s Day, April Mop, Paskah, ulang tahun, hari raya ini… dan itu…?”. “Mestinya, kita tidak perlu mengingkari bila George melakukan hal itu.karena secara syar'i tidaklah salah,Namun sayang nya kenapa kita tidak mengingkari diri dan keluarga kita sendiri yg bersuka ria dan ikut hanyut dalam perayaan2 hari raya mereka”????. kemudian dengan nada serius Ahmad melanjutkan, “Aku pernah tinggal di Amerika lebih dari 10 tahun, namun demi Allah, aku tak pernah sekalipun melihat seorang Kristen maupun Yahudi yang merayakan salah satu hari raya kita kaum muslimin. Aku juga tidak pernah mendapati seseorang dari mereka menanyakan tentang acara atau pesta yang kita rayakan. Sampai-sampai ketika aku berhari-raya di apartemenku, tidak ada seorang pun yang memenuhi undanganku setelah mereka tahu bahwa yang kurayakan adalah hari raya Islam. Aku menyaksikan itu semua selama aku tinggal di Barat, namun sekembaliku ke negeri muslim, ternyata sebagian besar dari kita ikut bersuka ria merayakan hari raya mereka… falaa haulaa walaa quwwata illa billaahil azhiem. Kisah ini ditulis oleh Syaikh Abdul Malik Al Qasim dengan judul (جورج والعيد)............. Artikel Muslim.Or.Id

Selasa, 11 Desember 2012

KEUTAMAAN DAN KEISTIMEWAAN ISLAM

Islam adalah merupakan agama yang Allah turun kan dengan penuh kemudahan di dalam nya,yang membawa dan menghantarkan kemuliaan serta kejayaan bagi penganutnya,yaitu kejayaan dan kemuliaan yg hakiki,kejayaan fiddunya wal’aakhirah,agama Islam adalah agama yang Allah turunkan risalah nya melalui Malaikat yang paling mulia,Jibril ‘Alaihissalaam,yg di utus kepada Nabi Muhammad Sallallohu’alaihi wasallam, yaitu Nabi yang paling mulia yang pernah menginjakkan kaki nya di muka bumi ini,agar Islam menjadi agama untuk ummat yang paling mulia yaitu ummat nya Nabi Muhammad Sallallohu’alaihi wasallam . Jika Islam adalah agama yang Allah ridoi,untuk menjadi agama nya ummat Nabi yang paling mulia,maka tentu nya sudah pasti memiliki banyak “KEISTIMEWAAN DAN KEUNGGULAN” , yang mana KEISTIMEWAAN DAN KEUNGGULAN ini,wajib bagi kita sebagai umat islam untuk mengetahui nya,karena pengetahuan tentang suatu hal, akan berdampak besar memotifasi kita untuk lebih serius mencintai dan menjalani nya, yang pada hakekat nya semua manfaat nya akan kembali kepada diri kita sendiri. Di antara keutamaan-keutamaan yang Allah jadikan di dalam Islam adalah :  ISLAM ADALAH AGAMA YANG SAGAT MUDAH Ketika kita membaca surat Al baqoroh ayat 185,Di tengah-tengah ayat yang menjelaskan ttg puasa Allah Subahanahu wata’aalaa berfirman : يريد الله بكم اليسرى ولا يريد بكم العسرى Di ayat yg lain Allah berfirman : وما جعل عليكم فى الدين من حرج Dan Rasulullah salallohu’alaihi wasallam bersabda : إن هذا الدينَ يسر Di hadist yang lain, Rasulullah Rasulullah salallohu’alaihi wasallam bersabda : يسّروا ولا تعسّروا ، بشّروا ولا تنفّروا Berikut adalah di antara kemudahan-kemudahan yang di bawa oleh Islam : 1. Kemudahan Dalam masalah berwuduq,di perbolehkan bagi yg tidak menemukan air,atau mudarat bagi yang terluka bila terkena air,maka di bolehkan bertayammum,bahkan bagi orang yg kadak hajat di daerah yang sulit menemukan air di bolehkan beristinjak memakai batu yang menyerap,sebagaimana sabda Nabi salallohu’alaihi wasallam : ومن إستجمر فليوتر ,,barang siapa yg beristinjak dengan batu maka hendaklah dengan bilangan yg ganjil. 2. Kemudahan Dalam masalah Sholat, Nabi salallohu’alaihi wasallam bersabda kepada Imron bin Husain : صل قائما فإن لم تستطع فقاعدا فإن لم تستطع فعلى جنب Sholatlah dengan berdiri,bila tidak mampu maka boleh dengan duduk,bila tidak mampu maka boleh dengan berbaring. Kemudian bagi orang yg musafir di perbolehkan untuk mengkosor (meringkas sholat yg empat rokaat menjadi dua rokaat) dan boleh menjamak (menggabung) sholat nya yg di kenal dalam ilmu fiqih dengan sebutan jamaq takdim dan jamaq ta’khiir. 3. Kemudahan Dalam masalah nakjis, kalau umat-umat terdahulu apabila pakaian mereka terkena nakjis,maka bagian pakaian nya yg terkena nakjis harus di gunting dan di buang,tetapi di dalam Islam hanya cukup dengan mencuci bagian pakaian yg terkena nakjis dengan air,tanpa harus menggunting nya 4. Kemudahan Dalam masalah bertaubat,kalau ummat-ummat terdahulu bila ingin bertobat maka harus dengan cara bunuh diri agar di terima taubat nya,seperti yang Allah jelaskan dalam Surat Al baqaroh ayat 54 yg menjelaskan ttg kaum Nabi Musa : وإذ قال موسى لقومه ياقوم إنكم ظلمتم أنفسكم باتخاذكم العجل فتوبوا إلى بارئكم فاقتلوا أنفسكم Akan tetapi di dalam Islam bila seseorang ingin bertobat cukup dengan beristigfar,menyesali,dan berkemauan kuat untuk tidak mengulangi kesalahan yang telah dia lakukan,serta mengiringi perbuatan yg jelek dengan kebaikan,insa’allah akan di terima taubat nya,,,,,,,,,, Dan masih banyak lagi kemudahan-kemudahan yang Allah anugrahkan untuk Islam yang tidak akan mungkin bisa kita batasi dan jabarkan dalam jumlah bilangan karena pemurah nya Allah Subahanahu wata’aalaa terhadap umat ini. ISLAM ADALAH AGAMA YANG SANGAT ISTIMEWA Sebagai agama yang di ridoi di sisi Allah Subahanahu wata’aalaa,dan agama yang di katakan oleh Nabi salallohu’alaihi wasallam يعلو ولا يعلى الإسلام yaitu : Islam adalah agama yang tinggi / unggul dan tidak ada yang lebih tinggi / unggul dari Islam,di karena kan keistimewaan-keistimewaan yang Allah anugrahkan,di antara nya : 1. Islam di istimewakan dari segi hari besar nya Jika yahudi di berikan hari sabtu sebagai besar nya,maka nasroni di berikan hari ahad menyusul di belakang hari sabtu sebagai hari besar nya,akan tetapi untuk Islam,Allah istimewakan hari besar nya yaitu hari Jum’at yang mendahului hari sabtu dan minggu,hari yang di katakan sayyidul ‘ayyam,hari yang sangat penuh dengan keutamaan,bahkan sampai sampai orang yg meninggal di hari atau malam jum’at adalah menjadi tanda khusnul khootimah,Nabi salallohu’alaihi wasallam bersabda( عن عبد الله بن عمرو ـــــ أحمد): ما من مسلم يموت يومَ الجمعة أو ليلة الجمعة إلا وقاه الله فتنةَ القبرtidaklah meninggal seorang muslim di hari atau malam jumat melainkan Allah akan menjaga nya dari fitnah kubur 2. Rasulullah Rasulullah salallohu’alaihi wasallam menyatakan ttg umur ummat nya بين ستين و سبعين ,antara 60-70 thn,walau demikian Islam di istimewakan dengan suatu anugrah yang dengan nya umat islam bisa menyamai bahkan mengungguli umat-umat terdahulu yang di berikan fisik yg kuat dan umur panjang ratusan bahkan ribuan tahun,Allah menganugrahkan keistimewaan untuk umat ini suatu malam yang di kenal dengan malam lailatul qodar, yang apabila seorang mukmin beribadah di dalam nya maka nilai nya lebih baik dari seribu bulan,yang kalau di hitung dalam bilangan tahun adalah  83 tahun 4 bulan,artinya apabila seorang mukmin di sepuluh tahun hidup nya bertemu dengan lailatul qodar sebanyak 10 kali,maka menyamai kebaikan nya 836 tahun 6 bulan,belum lagi kebaikan-kebaikan yang di lakukan nya di hari dan malam yang selain malam lailatul qodar. 3. Ummat islam di istimewakan dlm masalah hisab,karena Ummat yg paling pertama di hisab adalah ummat nya Nabi Muhammad Salallohu’alaihi wasallam,tidak akan di hisab ummat umat terdahulu sampai habis di hisab nya ummat Nabi Muhammad,,Rasululloh salallohu’alaihi wasallam bersabda: (عن إبن عباس ــــ رواه إبن ماجه, أحمد, بيهقي ) نحن الآخرالأمم وأول من يحاسب ,” kita memang umat yg paling akhir,tetapi yang paling awwal di hisab di hari kiyamat ” 4. Ummat islam juga di istimewakan dlm masalah masuk surga,Yang paling pertama membuka pintu sorga adalah Nabi kita Nabi Muhammad Salallohu’alaihi wasallam,dan di istimewakan ummat yang paling pertama memasuki nya adalah umat Nabi Muhammad Salallohu’alaihi wasallam,dan tidak akan masuk sorga ummat-ummat terdahulu kecuali setelah habis ummat Nabi Muhammad Salallohu’alaihi wasallam memasuki nya,Nabi salallohu’alaihi wasallam bersabda : عن أبو هريرة ـــــــ رواه مسلم) ونحن أول من يدخل الجنة Demikian tulisan yg bisa kami sampaikan dengan harapan bermanfaat bagi kami pribadi dan kita semua,dan semoga pengetahuan kita tentang keutamaan dan keistimewaan islam semakin memotifasi kita untuk lebih bangga dan mencintai Islam,Umar bin khatab pernah berkata : نحن قوم أعزناالله بالإسلام,فمن ابتغيناالعزةفى غيره أذلناالله

Minggu, 02 Desember 2012

KENANGAN DARI TANAH SUCI


MALAM DI DEKAT KA'BAH


ABY DAN UMMY DI LANTAI 3 MASJIDIL HAROM


DI DEPAN MASJIDIL HAROM


SUASANA WUKUF DI AROFAH 


MASJID NABAWY DI WAKTU MALAM


RAUDAH ASSYARIIF


SUASANA HUJAN DI MAKKAH


SUASANA HUJAN DI MADINAH



Selasa, 21 Agustus 2012

PENGIKUT SEJATI YESUS ADALAH KAUM MUSLIMIN

REVIEW OF RELIGION-IN ALLAH WE TRUST-REVIEW OF RELIGION: Kristen Sejati Adalah Islam?:   Nashrani merupakan agama yang diberikan Allah kepada Nabi Isa (Yesus versi Islam). Sedangkan Kristen adalah agama buatan pengikut P...

BERITA TTG DATANG NYA NABI MUHAMMAD DALAM KITAB SUCI AGAMA HINDU

REVIEW OF RELIGION-IN ALLAH WE TRUST-REVIEW OF RELIGION: Berita Datangnya Nabi Muhammad Di Kitab Hindhu: Bhavishya Purana in the Prati Sarag Parv III Khand 3 Adhay 3 Shloka 5 to 8, Malecha (Ibrani = Mahekha = saudaramu), (or...

KITAB AGAMA BUDHA MENGABARKAN TTG KEDATANGAN NABI MUHAMMAD

REVIEW OF RELIGION-IN ALLAH WE TRUST-REVIEW OF RELIGION: Budha Telah Menggambarkan Datangnya Nabi Muhammad?...: Nama Budha pertama kali dipakai oleh Sidharta Gautama atau sakyamuni yang lahir sekitar tahun 563 SM sebagai pendiri Budha. Arti Budha...

BEBERAPA SISA PENINGGALAN YG DI KAITKAN DENGAN DZULQORNAIN

REVIEW OF RELIGION-IN ALLAH WE TRUST-REVIEW OF RELIGION: Dzulkarnaen dan Kota Atlantis Menurut Al-Quran: Di dalam artikel ini akan dibahas mengenai hubungan antara Dzulkarnaen dengan Peradaban tinggi jaman dulu (Atlantis). Ini hanya kajian...

Sabtu, 21 Juli 2012

PENDAPAT PARA ULAMA SEPUTAR ROKAAT TARAWIH


Sebenarnya dalam permalasalahan jumlah raka'at shalat tarawih tidak ada masalah sama sekali. Tidak ada masalah dengan 23 raka'at atau 11 raka'at. Semoga kita bisa semakin tercerahkan dengan tulisan berikut. 

Shalat Tarawih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dari Abu Salamah bin ‘Abdirrahman, dia mengabarkan bahwa dia pernah bertanya pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Bagaimana shalat malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan?”. ‘Aisyah mengatakan,
مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)
Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau menuturkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami di bulan Ramadhan sebanyak 8 raka’at lalu beliau berwitir. Pada malam berikutnya, kami pun berkumpul di masjid sambil berharap beliau akan keluar. Kami terus menantikan beliau di situ hingga datang waktu fajar. Kemudian kami menemui beliau dan bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami menunggumu tadi malam, dengan harapan engkau akan shalat bersama kami.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya aku khawatir kalau akhirnya shalat tersebut menjadi wajib bagimu.” (HR. Ath Thabrani, Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa derajat hadits ini hasan. Lihat Shalat At Tarawih, hal. 21)
As Suyuthi mengatakan, “Telah ada beberapa hadits shahih dan juga hasan mengenai perintah untuk melaksanakan qiyamul lail di bulan Ramadhan dan ada pula dorongan untuk melakukannya tanpa dibatasi dengan jumlah raka’at tertentu. Dan tidak ada hadits shahih yang mengatakan bahwa jumlah raka’at tarawih yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 20 raka’at. Yang dilakukan oleh beliau adalah beliau shalat beberapa malam namun tidak disebutkan batasan jumlah raka’atnya. Kemudian beliau pada malam keempat tidak   melakukannya agar orang-orang tidak menyangka bahwa shalat tarawih adalah wajib.”
Ibnu Hajar Al Haitsamiy mengatakan, “Tidak ada satu hadits shahih pun yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat tarawih 20 raka’at. Adapun hadits yang mengatakan “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat (tarawih) 20 raka’at”, ini adalah hadits yang sangat-sangat lemah.” (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Quwaitiyyah, 2/9635)
Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Adapun yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari hadits Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di bulan Ramadhan 20 raka’at ditambah witir, sanad hadits itu adalah dho’if. Hadits ‘Aisyah yang mengatakan bahwa shalat Nabi tidak lebih dari 11 raka’at juga bertentangan dengan hadits Ibnu Abi Syaibah ini. Padahal ‘Aisyah sendiri lebih mengetahui seluk-beluk kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu malam daripada yang lainnya. Wallahu a’lam.” (Fathul Bari, 6/295)

Jumlah Raka’at Shalat Tarawih yang Dianjurkan

Jumlah raka’at shalat tarawih yang dianjurkan adalah tidak lebih dari 11 atau 13 raka’at. Inilah yang dipilih oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits yang telah lewat.
‘Aisyah mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)
Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,
كَانَ صَلاَةُ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً . يَعْنِى بِاللَّيْلِ
Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam hari adalah 13 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1138 dan Muslim no. 764). Sebagian ulama mengatakan bahwa shalat malam yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 11 raka’at. Adapun dua raka’at lainnya adalah dua raka’at ringan yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pembuka melaksanakan shalat malam, sebagaimana hal ini dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (4/123, Asy Syamilah).

Bolehkah Menambah Raka’at Shalat Tarawih Lebih dari 11 Raka’at?

Mayoritas / jumhur ulama terdahulu dan ulama belakangan, mengatakan  bahwa boleh menambah raka’at dari yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan, “Sesungguhnya shalat malam tidak memiliki batasan jumlah raka’at tertentu. Shalat malam adalah shalat nafilah (yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan sedikit raka’at. Siapa yang mau juga boleh mengerjakan banyak.” (At Tamhid, 21/70)
Yang membenarkan pendapat ini adalah dalil-dalil berikut.
Pertama, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ
Shalat malam adalah dua raka’at dua raka’at. Jika engkau khawatir masuk waktu shubuh, lakukanlah shalat witir satu raka’at.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kedua, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
فَأَعِنِّى عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ
Bantulah aku (untuk mewujudkan cita-citamu) dengan memperbanyak sujud (shalat).” (HR. Muslim no. 489)
Ketiga, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً
Sesungguhnya engkau tidaklah melakukan sekali sujud kepada Allah melainkan Allah akan meninggikan satu derajat bagimu dan menghapus satu kesalahanmu.” (HR. Muslim no. 488)
Keempat, Pilihan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memilih shalat tarawih dengan 11 atau 13 raka’at ini bukanlah pengkhususan dari tiga dalil di atas.

Alasan pertama,
perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengkhususkan ucapan beliau sendiri, sebagaimana hal ini telah diketahui dalam ilmu ushul. 

Alasan kedua,
 Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melarang menambah lebih dari 11 raka’at. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Shalat malam di bulan Ramadhan tidaklah dibatasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bilangan tertentu. Yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau tidak menambah di bulan Ramadhan atau bulan lainnya lebih dari 13 raka’at, akan tetapi shalat tersebut dilakukan dengan raka’at yang panjang. ... Barangsiapa yang mengira bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki bilangan raka’at tertentu yang ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak boleh ditambahi atau dikurangi dari jumlah raka’at yang beliau lakukan, sungguh dia telah keliru.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272)

Alasan ketiga,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan para sahabat untuk melaksanakan shalat malam dengan 11 raka’at. Seandainya hal ini diperintahkan tentu saja beliau akan memerintahkan sahabat untuk melaksanakan shalat 11 raka’at, namun tidak ada satu orang pun yang mengatakan demikian. Oleh karena itu, tidaklah tepat mengkhususkan dalil yang bersifat umum yang telah disebutkan di atas. Dalam ushul telah diketahui bahwa dalil yang bersifat umum tidaklah dikhususkan dengan dalil yang bersifat khusus kecuali jika ada pertentangan.

Alasan Kelima,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan shalat malam dengan bacaan yang panjang dalam setiap raka’at. Di zaman setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang begitu berat jika melakukan satu raka’at begitu lama. Akhirnya, ‘Umar memiliki inisiatif agar shalat tarawih dikerjakan dua puluh raka’at agar bisa lebih lama menghidupkan malam Ramadhan, namun dengan bacaan yang ringan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Tatkala ‘Umar mengumpulkan manusia dan Ubay bin Ka’ab sebagai imam, dia melakukan shalat sebanyak 20 raka’at kemudian melaksanakan witir sebanyak tiga raka’at. Namun ketika itu bacaan setiap raka’at lebih ringan dengan diganti raka’at yang ditambah. Karena melakukan semacam ini lebih ringan bagi makmum daripada melakukan satu raka’at dengan bacaan yang begitu panjang.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272)

Alasan Keenam,
telah terdapat dalil yang shahih bahwa ‘Umar bin Al Khottob pernah mengumpulkan manusia untuk melaksanakan shalat tarawih, Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Daari ditunjuk sebagai imam. Ketika itu mereka melakukan shalat tarawih sebanyak 21 raka’at. Mereka membaca dalam shalat tersebut ratusan ayat dan shalatnya berakhir ketika mendekati waktu shubuh. (Diriwayatkan oleh ‘Abdur Razaq no. 7730, Ibnul Ja’di no. 2926, Al Baihaqi 2/496. Sanad hadits ini shahih. Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/416)
Begitu juga terdapat dalil yang menunjukkan bahwa mereka melakukan shalat tarawih sebanyak 11 raka’at. Dari As Saa-ib bin Yazid, beliau mengatakan bahwa ‘Umar bin Al Khottob memerintah Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Daariy untuk melaksanakan shalat tarawih sebanyak 11 raka’at. As Saa-ib mengatakan, “Imam membaca ratusan ayat, sampai-sampai kami bersandar pada tongkat karena saking lamanya. Kami selesai hampir shubuh.” (HR. Malik dalam Al Muqatho’, 1/137, no. 248. Sanadnya shahih. Lihat Shahih Fiqih Sunnah 1/418)

Berbagai Pendapat Mengenai Jumlah Raka’at Shalat Tarawih
Jadi, shalat tarawih 11 atau 13 raka’at yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah pembatasan. Sehingga para ulama dalam pembatasan jumlah raka’at shalat tarawih ada beberapa pendapat.

Pendapat pertama,
yang membatasi hanya 11 raka’at.
Alasannya karena inilah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah pendapat Syaikh Al Albani dalam kitab beliau Shalatut Tarawaih.

Pendapat kedua,
shalat tarawih adalah 20 raka’at (belum termasuk witir).
Inilah pendapat mayoritas ulama semacam Ats Tsauri, Al Mubarok, Asy Syafi’i, Ash-haabur Ro’yi, juga diriwayatkan dari ‘Umar, ‘Ali dan sahabat lainnya. Bahkan pendapat ini adalah kesepakatan (ijma’) para sahabat.

Al Kasaani mengatakan, “’Umar mengumpulkan para sahabat untuk melaksanakan qiyam Ramadhan lalu diimami oleh Ubay bin Ka’ab radhiyallahu Ta’ala ‘anhu. Lalu shalat tersebut dilaksanakan 20 raka’at. Tidak ada seorang pun yang mengingkarinya sehingga pendapat ini menjadi ijma’ atau kesepakatan para sahabat.”

Ad Dasuuqiy dan lainnya mengatakan, “Shalat tarawih dengan 20 raka’at inilah yang menjadi amalan para sahabat dan tabi’in.”

Ibnu ‘Abidin mengatakan, “Shalat tarawih dengan 20 raka’at inilah yang dilakukan di timur dan barat.”

Ali As Sanhuriy mengatakan, “Jumlah 20 raka’at inilah yang menjadi amalan manusia dan terus menerus dilakukan hingga sekarang ini di berbagai negeri.”
Al Hanabilah mengatakan, “Shalat tarawih 20 raka’at inilah yang dilakukan dan dihadiri banyak sahabat. Sehingga hal ini menjadi ijma’ atau kesepakatan sahabat. Dalil yang menunjukkan hal ini amatlah banyak.” (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9636)


Pendapat ketiga,
shalat tarawih adalah 39 raka’at dan sudah termasuk witir.
Inilah pendapat Imam Malik. Beliau memiliki dalil dari riwayat Daud bin Qois, dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan riwayatnya shahih. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/419)

Pendapat keempat,
shalat tarawih adalah 40 raka’at dan belum termasuk witir.
Sebagaimana hal ini dilakukan oleh ‘Abdurrahman bin Al Aswad shalat malam sebanyak 40 raka’at dan beliau witir 7 raka’at. Bahkan Imam Ahmad bin Hambal melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan tanpa batasan bilangan sebagaimana dikatakan oleh ‘Abdullah. (Lihat Kasyaful Qona’ ‘an Matnil Iqna’, 3/267) 

KESIMPULAN
    
     Kesimpulan dari pendapat-pendapat yang ada adalah sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,
“Semua jumlah raka’at di atas boleh dilakukan.
Melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dengan berbagai macam cara tadi itu sangat bagus. Dan memang lebih utama adalah melaksanakan shalat malam sesuai dengan kondisi para jama’ah. Kalau jama’ah kemungkinan senang dengan raka’at-raka’at yang panjang, maka lebih bagus melakukan shalat malam dengan 10 raka’at ditambah dengan witir 3 raka’at, sebagaimana hal ini dipraktekkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri di bulan Ramdhan dan bulan lainnya. Dalam kondisi seperti itu, demikianlah yang terbaik.
Namun apabila para jama’ah tidak mampu melaksanakan raka’at-raka’at yang panjang, maka melaksanakan shalat malam dengan 20 raka’at itulah yang lebih utama. Seperti inilah yang banyak dipraktekkan oleh banyak ulama. Shalat malam dengan 20 raka’at adalah jalan pertengahan antara jumlah raka’at shalat malam yang sepuluh dan yang empat puluh. Kalaupun seseorang melaksanakan shalat malam dengan 40 raka’at atau lebih, itu juga diperbolehkan dan tidak dikatakan makruh sedikitpun. Bahkan para ulama juga telah menegaskan dibolehkannya hal ini semisal Imam Ahmad dan ulama lainnya.
Oleh karena itu, barangsiapa yang menyangka bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki batasan bilangan tertentu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tidak boleh lebih atau kurang dari 11 raka’at, maka sungguh dia telah keliru.”
(Majmu’ Al Fatawa, 22/272)

Dari penjelasan di atas kami katakan, hendaknya setiap muslim bersikap arif dan bijak dalam menyikapi permasalahan ini.  Sungguh tidak tepatlah kelakuan sebagian saudara kami yang berpisah dari jama’ah shalat tarawih setelah melaksanakan shalat 8 atau 10 raka’at karena mungkin dia tidak mau mengikuti imam yang melaksanakan shalat 23 raka’at atau dia sendiri ingin melaksanakan shalat 23 raka’at di rumah.
Orang yang keluar dari jama’ah sebelum imam menutup shalatnya dengan witir juga telah meninggalkan pahala yang sangat besar. Karena jama’ah yang mengerjakan shalat bersama imam hingga imam selesai –baik imam melaksanakan 11 atau 23 raka’at- akan memperoleh pahala shalat seperti shalat semalam penuh. “Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 447 mengatakan bahwa hadits ini shahih). Semoga Allah memafkan kami dan juga mereka.

Yang Paling Bagus adalah Yang Panjang Bacaannya

Setelah penjelasan di atas, tidak ada masalah untuk mengerjakan shalat 11 atau 23 raka’at. Namun yang terbaik adalah yang pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun berdirinya agak lama. Dan boleh juga melakukan shalat tarawih dengan 23 raka’at dengan berdiri yang lebih ringan sebagaimana banyak dipilih oleh mayoritas ulama.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصَّلاَةِ طُولُ الْقُنُوتِ
Sebaik-baik shalat adalah yang lama berdirinya.” (HR. Muslim no. 756)
Dari Abu Hurairah, beliau berkata,
عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُصَلِّىَ الرَّجُلُ مُخْتَصِرًا
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang shalat mukhtashiron.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ibnu Hajar –rahimahullah- membawakan hadits  di atas dalam kitab beliau Bulughul Marom, Bab “Dorongan agar khusu’ dalam shalat.” Sebagian ulama menafsirkan ikhtishor (mukhtashiron) dalam hadits di atas adalah shalat yang ringkas (terburu-buru), tidak ada thuma’ninah ketika membaca surat, ruku’  dan sujud. (Lihat Syarh Bulughul Marom, Syaikh ‘Athiyah Muhammad Salim, 49/3, Asy Syamilah)
Oleh karena itu, tidak tepat jika shalat 23 raka’at dilakukan dengan kebut-kebutan, bacaan Al Fatihah pun kadang dibaca dengan satu nafas. Bahkan kadang pula shalat 23 raka’at yang dilakukan lebih cepat selesai dari yang 11 raka’at. Ini sungguh suatu kekeliruan. Seharusnya shalat tarawih dilakukan dengan penuh khusyu’ dan thuma’ninah, bukan dengan kebut-kebutan. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.
***
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Cuplikan dari Buku Panduan Ramadhan